Kisah Islamnya Bocah Amerika

Maret 6, 2009 at 7:24 am (muslim) ()

Kisah bocah ini adalah bahwa ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari semua agama. Setelah membaca dengan penuh teliti, akhirnya dia memutuskan untuk menjadi seorang muslim sebelum dia bertemu dengan seorang muslimpun.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi” (HR. Al-Bukhari no. 1296).

Kisah kita kali ini, tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.

Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nashrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim.

Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari shalat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.

Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk menjadikan namanya yang baru adalah Muhammad ‘Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang dia cintai sejak masih kecil.

Salah seorang wartawan muslim menemuinya, dan terjadilah dialog berikut :

Sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu : “Apakah engkau seorang yang hafal A-Qur’an ?” (dia bertanya dalam bahasa ‘Arab).

Wartawan itu berkata : “Tidak”. Kemudian ia (wartawan tersebut) mengatakan : “Dan aku merasakan kekecewaannya (anak itu) atas jawabaku ini”.

Dia berkata : “Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujaniku dengan banyak pertanyaan. “Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ‘umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”.

Wartawan tersebut menceritakan keadaannya, seraya berkata ; “Aku sudah menduga dia menyebutkan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia shalat. Akan tetapi jawabannya tidak disangka-sangka, dia dengan tenang bercampur penyesalan mengatakan : “Terkadang aku kehilangan sebagian shalat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu shalat”.

Wartawan (selanjutnya disingkat W) : “Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?”. Dia diam sesaat kemudian menjawab.

Muhammad (selanjutnya disingkat M) : “Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.

W : “Apakah engkau telah puasa Ramadlan ?”.

M – tersenyum – dan berkata : “Ya, aku telah puasa Ramadlan yang lalu secara sempurna alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : “Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.

W : “Apakah cita-citamu ?”.

M – dengan cepat ia menjawab – : “Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.

W : “Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?”.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : “Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.

Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ‘Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian dia meneruskan : “Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar”.

Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya : “Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini”.

W : “Apakah cita-citamu yang lain ?”.

M : “Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka”.

Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.

M : “Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina”.

W : “Apakah negkau mempunyai cita-cita lain ?”.

M : “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al-Qur’an”.

W : “Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?”.

Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”.

W : “Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”.

M : “Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi”.

W : “Apakah engkau shalat di sekolahan ?”.

M : “Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari”.

Datanglah waktu shalat maghrib, maka dia melihatku seraya berkata : “Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”.
Kemudian dia berdiri dan adzan pada waktu air mata mengalir di kedua mataku.

Permalink 1 Komentar

Anak Petani

September 3, 2008 at 3:19 pm (Humor) ()

Pada suatu hari Tutut, anaknya Soeharto, lewat di jalan tol di Jakarta.

Penjaga Tol: “3000 rupiah”.
Bu Tutut yang emangnya ngak punya uang seribuan mengeluarkan uang 50 ribu rupiah langsung saja menyodorkan tuch uang.
Penjaga Tol: “Ini Bu, kembaliannya. “
Bu Tutut: “Sudah…simpan saja buat keluarga anda.”
Penjaga tol merasa senang karena menerima 47 ribu rupiah dan langsung
berterima kasih kepada Tutut.

Setelah beberapa jam Tommy dateng melewati jalan tol tersebut. Karena mereka tuch anaknya Soeharto, ngak punya uang receh, Tommy mengeluarkan uang 20 ribuan.
Penjaga Tol: “Ini Pak, kembaliannya 17 ribu.”
Tommy: “Sudahlah, simpan aja buat sekolah anak anda.”
Penjaga langsung memasukan kembalian itu ke kantongnya dan berterima kasih banyak ke Tommy.

Setelah beberapa jam Soeharto dengan mobilnya lewat jalan tol.
Soeharto mengeluarkan uang 5000 rupiah dan disodorkan ke penjaga tol.
Soeharto menunggu uang kembaliannya itu dan setelah menunggu 5 menit,
ditanyanya kepada penjaga tol
Soeharto: “Lho, mana uang kembalian saya ?”
Penjaga Tol: “Ah Bapak, masa uang 2000 rupiah aja dibalikin. Tadi bu Tutut
dan pak Tommy lewat kembaliannya 47 ribu dan 17 ribu aja diberikan ke saya,
masa Bapak yang 2000 aja minta kembalian?? “
Soeharto: “Tunggu dulu mas !! Anda tau sapa Tutut dan Tommy??”
Penjaga Tol dengan cekatan menjawab: “Yach tahu Pak! Pertanyaan gampang tho, jelas Tutut dan Tommy tuh Anaknya Presiden.”
Soeharto: “Pinter kamu, tahu mereka anak Presiden. Nah sedangkan saya kan cuma Anak Petani !! Sekarang, mana kembalian saya??”
Penjaga Tol : ! [at] $ [at] !$!%!^$ [at] ^

Permalink & Komentar

a ndhekem (@)

September 3, 2008 at 3:05 pm (Humor) ()

Cuplikan dialog dalam sebuah pendaftaran seminar
…………….
operator : alamat imil Pak?
pendaftar: bagong a-ndhekem bingung dot com
operator : jangan bingung Pak tolong imilnya!
pendaftar: gak bingung Mbak emang betul imil saya itu
operator : coba ulangi Pak!
pendaftar: bagong a-ndhekem bingung dot com
operator : ooo…… rupanya Bapak penterjemah bebas ya!
bagong@bingung.com …… ya sudah

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Penemuan Teknologi Informasi

September 3, 2008 at 2:57 pm (Humor) ()

Para ilmuwan dari Jerman menggali tanah sedalam 50 meter dan
mereka telah menemukan potongan-potongan tembaga kecil.
Setelah lama meneliti potongan-potongan tembaga tersebut,
Jerman mengumumkan bahwa nenek moyang orang Jerman di jaman 25000 tahun
yang lalu telah memiliki jaringan telekomunikasi.

Tetapi hal ini tidak membuat pemerintah Amerika Serikat (AS)
terkagum-kagum. Mereka lalu menyuruh para ilmuwan mereka untuk
menggali lebih dalam lagi. Pada kedalaman 100 meter, mereka
menemukan potongan-potongan gelas dan mereka segera mengumumkan bahwa
nenek moyang bangsa AS sekitar 35000 tahun yang lalu telah memiliki
jaringan serat optik di negara mereka.

Para ilmuwan Indonesia yang berada di LIPI dan BPPT tentu saja merasa
lucu mendengar hal tersebut. Tetapi dengan semangat yang menyala-nyala
para ilmuwan Indonesia malah menggali tanah jauh lebih dalam lagi sampai
200 meter.

Dan, tentu saja mereka tidak menemukan apapun. Akhirnya
dengan semangat yang menyala-nyala pula pemerintah Indonesia
mengumumkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sekitar 50000 tahun yang
lampau telah menggunakan telepon seluler sebagai media komunikasi
mereka….

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Jenis Wanita Berdasarkan Komputer

September 3, 2008 at 2:55 pm (Humor) ()

Baru-baru ini World Computer Scientist Journal mengadakan survey thd para computer scientist ttg bagaimana cara mereka memandang wanita, hasilnya sebagai berikut :

1. Tipe CPU : pintar, pemikir, tidak banyak bicara tapi mengerjakan banyak hal, (diam-diam tau-tau sudah 7 bulan).

2. Tipe Monitor : genit, senangnya diperhatikan, suka pamer, (padahal belum tentu yang dipamerin bagus).

3. Tipe Keyboard : senang dipegang, ditekan dan dipencet di berbagai lokasi (awas, salah tekan bisa fatal).

4. Tipe Printer : aktif, ditekan sedikit geraknya banyak, kalau sedang dipakai berisik, (nggak cocok di rumah type 21 ato’ RSS, mengganggu tetangga)

5. Tipe Mouse : pas dan enak digenggam, dingin-dingin empuk!

6. Tipe Windows : tampak luar bagus, dalamnya penuh bagus

7. Tipe Linux-console : tampak luar jelek, dalamnya ‘handal’

8. Tipe XWindow : luar dalam bisa dihandalkan.

9. Tipe DOS : ….wajah tidak cantik, belum tentu hatinya baik!

10.Tipe UNIX : diam-diam, multi user

11.Tipe PLC : badan besar dan kekar, Mampu bekerja di tempat kotor, 24 jam sehari, 365 hari setahun nonstop selama 30 tahun

12.Tipe Windows NT : multi user, previlleges bisa costumized

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ndeso Gatek

Agustus 8, 2008 at 9:25 am (Humor) ()

Saat pesawat siap “take-off” teman disamping saya gelisah, ternyata seorang bapak tua sibuk dengan hpnya. Pesawat menuju “Run-way” bapak tua tiba2 menerima telepon sambil berkata: “ini yang kutunggu sedari tadi”,

lalu teman saya menimpali : “Pak tolong hpnya dimatikan kan kita sudah mau take-off”.

Bapak tua langsung bereaksi dan berkata “nak saya khan nanti mau dijemput karena baru kali ini naik pesawat,jadi harus tunggu telepon dari penjemput saya…tau?”.

Saat pesawat memutar siap untuk dipacu, teman saya itu menyuruh lagi untuk mematikan hp bapak itu. Ternyata hpnya terkunci otomatis dan dia tidak bisa mematikan. saking gregetnya takut kalau2 terjadi sesuatu, teman saya merebut hp itu dan langsung mematikan.

Dalam pejalanan bapak tua itu berkomentar ” naik pesawat kok tidak jalan yah? pohon2 tidak ada yang lari kebelakang!?” dan terus aja dia ngoceh,katanya lagi” dipesawat kok tidak panas padahal sudah dekat matahari”.

Teman saya senyum simpul saja mendengar ucapan bapak tua itu.
Nah… Saat pesawat sudah mendarat sedikit ada kegaduhan karena para penumpang diperintahkan turun lewat pintu depan. Bapak tua tetap ngotot mau turun lewat pintu belakang. Usut punya usut teman bertanya ” pak kenapa harus turun lewat belakang?” Jawab pak tua “Nak… tadi waktu mau naik pesawat sendal saya kulepas karena takut lantai pesawatnya kotor…!!!”

Teman Saya….!?*!? Bingung!!! dan tawanya meledak campur heran.

Saya jelaskan kepada teman saya bahwa adat dikampung, sendal harus dilepas kalau mau naik rumah karena di daerah kami pada umumnya bentuk rumah panggung yang pakai tangga.

Salam.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Hello world!

Juli 3, 2008 at 8:48 am (Uncategorized)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Permalink 1 Komentar